Pameran Maen Setu Babakan Hidupkan Kembali Permainan Tradisional Betawi
Unit Pengelola Kawasan (UPK) Perkampungan Budaya Betawi (PBB) Setu Babakan, Jagakarsa, Jakarta Selatan kembali mengadakan pameran temporer tahunan.
"Permainan rakyat kepada generasi muda"
Mengusung judul Maen dengan tema "Saban Maen Bikin Girang, Hiburan Jadul yang Kagak Ilang", kegiatan ini diadakan untuk turut menyemarakkan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Setu Babakan Diharapkan Jadi Pusat Aktivitas Seni dan Budaya JakartaKepala UPK PBB Setu Babakan, Debby Novita Andriani mengatakan, pameran tersebut mengangkat berbagai jenis permainan dan hiburan tradisional masyarakat Betawi, seperti dampu, pletokan, hingga permainan karet.
"Kegiatan ini lebih dari sekadar nostalgia. Kegiatan ini bertujuan memperkenalkan kembali nilai-nilai kebersamaan, pengendalian diri, sportivitas, dan kerja sama yang terkandung dalam permainan rakyat kepada generasi muda," ujarnya, Jumat (14/8).
Debby menjelaskan, Maen sengaja dipilih untuk menegaskan identitas khas Betawi, meskipun dalam bahasa baku berarti main. Bagi masyarakat Betawi, Maen bukan sekadar persoalan menang dan kalah.
"Bermain adalah tentang kebersamaan, belajar mengalah, bersabar, dan melatih pengendalian diri agar hati menjadi girang," terangnya.
Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi salah satu langkah nyata dalam menjaga permainan rakyat sebagai objek pemajuan kebudayaan di tengah era modernisasi.
"Sebagai satu-satunya pusat edukasi dan laboratorium budaya Betawi milik Pemprov DKI Jakarta, Setu Babakan terus berkomitmen memperkuat identitas kebudayaan lokal di tengah transformasi Jakarta menuju kota global," ungkapnya.
Debby menuturkan, untuk memastikan kelestarian budaya tetap berlangsung di DKI Jakarta, pendekatan kolaborasi pentahelix diterapkan dengan melibatkan berbagai unsur, mulai dari pemerintah, masyarakat, akademisi, perguruan tinggi, hingga pihak swasta.
"Upaya ini sejalan dengan prinsip bahwa pelestarian budaya merupakan tanggung jawab bersama," bebernya.
Ia menuturkan, selain menyajikan koleksi permainan tradisional, rangkaian pameran juga dilengkapi kegiatan knowledge management. Para peserta diajak mengikuti lokakarya musik Gambang Kromong serta pelatihan pembuatan bir pletok, minuman khas Betawi yang telah diatur melalui Peraturan Gubernur (Pergub) Nomor 11 Tahun 2017.
"Pameran temporer ini kami harapkan dapat diikuti oleh seluruh peserta ataupun pengunjung yang hadir hingga usai, sekaligus menjadi momentum untuk mempererat rasa bangga terhadap warisan budaya Jakarta," bebernya.
Debby berpesan kepada generasi muda agar tidak hanya mengandalkan jendela digital untuk memperluas perspektif, tetapi juga tetap mengedepankan nilai-nilai budaya dengan mengenal sejarah dan melestarikan kebudayaan.
"Melalui permainan ini, kita dapat mengembangkan karakter dan jati diri melalui kebersamaan, pengendalian emosi, serta kejujuran. Dengan demikian, nilai-nilai ini dapat menjadi pegangan dan pendamping hidup dalam bergaul, bekerja sama, serta berinteraksi secara sosial," ucapnya
Sementara itu, Widyaiswara Ahli Utama pada Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Provinsi DKI Jakarta, Widyastuti memberikan apresiasi kepada Dinas Kebudayaan DKI Jakarta, khususnya UPK PBB Setu Babakan yang sudah mengangkat tema permainan tradisional Betawi.
"Kegiatan ini dapat menjadi aset pengetahuan yang penting bagi generasi muda," tuturnya.
Ia menginginkan, Dinas Kebudayaan DKI Jakarta dapat mengalihkan fokus generasi muda atau Gen Z agar terdapat keseimbangan antara penggunaan teknologi dan permainan tradisional masa lalu.
"Sebagaimana sudah disuguhkan berbagai macam permainan masa lalu. Mungkin hal ini bisa dicontoh," tandasnya.